Prof. Emil Salim : Tahun 2014 Harus Ada Wakil Papua untuk Penerima SATU Indonesia Awards"/>

LOKASIMU

Memilih lokasi Anda membantu kami memberikan harga yang akurat, ketersediaan stok, dan menemukan cabang terdekat untuk Anda.

Prof. Emil Salim : Tahun 2014 Harus Ada Wakil Papua untuk Penerima SATU Indonesia Awards

JAYAPURA: Kota terakhir yang menjadi tujuan roadshow Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014 adalah Jayapura. Kegiatan ini masih dalam rangka mencari pemuda-pemudi yang memiliki semangat berkarya dan melangkah maju bersama Indonesia.

SATU Indonesia Awards mengajak para pemuda-pemudi Jayapura untuk berdiskusi dalam acara bincang inspiratif. Sebelumnya telah dilaksanakan Kick Off SATU Indonesia Awards 2014 di Jakarta, yang dilanjutkan dengan roadshow ke kota Banjarmasin dan Manado.

Antusiasme dari kalangan muda Jayapura yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, kalangan komunitas hingga media massa yang hadir memberikan harapan pada Astra bahwa akan banyak pemuda-pemudi mutiara bangsa yang lahir dari kota Jayapura dan Papua secara umum. Turut hadir dalam acara ini Asisten 2 Provinsi Papua Bidang Perekonomian & Pembangunan Elia I. Loupatty.

Diskusi yang berlangsung hangat dan penuh inspirasi ini menghadirkan beberapa nara sumber, Juri SATU Indonesia Awards 2014, yaitu Prof. Dr. Emil Salim dan Prof. Dr. Nila Moeloek, SpM(K), Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 asal Lombok Timur Marwan Hakim serta Head of Environment & Social Responsibility PT Astra International Tbk Riza Deliansyah.

Ketua Dewan Juri SATU Indonesia Awards Prof. Dr. Emil Salim menyatakan bahwa pemuda-pemudi Papua tidak tertinggal dibandingkan pemuda-pemudi di kota-kota lain di Indonesia. Yang tertinggal hanya kesempatan saja. “SATU Indonesia Awards datang ke Papua dengan tujuan untuk membangunkan para pemuda-pemudi Papua yang memiliki hasrat ingin maju, karena SATU Indonesia Awards mencari benih-benih yang bisa maju ke depan. Tahun 2014 harus ada perwakilan dari Papua yang menerima apresiasi SATU Indonesia Awards,” papar Prof. Emil sembari menambahkan : “Tolong sebarkan informasi ini ke seluruh pelosok Papua yang sangat luas ini.”

Sementara itu, Prof. Dr. Nila Moeloek, SpM(K) mengatakan: “Perempuan menjadi ujung tombak keluarga, penentu kesejahteraan keluarga. Mari kita bangkit untuk Indonesia yang lebih baik. Saya juga mengimbau para pemudi Papua untuk ikut SATU Indonesia Awards 2014.”

Semangat Luar Biasa

Setelah menerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 lalu, lelaki bernama lengkap Marwan Hakim ini merasakan berbagai efek positif. “Semangat dari kegiatan ini luar biasa. Kami ikut terbawa semangat itu. Apalagi kegiatan kami ada di daerah terpencil. Dampaknya, kami jadi berupaya untuk membuat infrastruktur dari lembaga kami menjadi lebih rapi,” akunya.

Marwan tidak pernah sungkan untuk mengungkapkan bahwa persoalan infrastruktur masih menjadi ganjalannya. Kondisi fisik sekolah yang didirikannya masih sangat sederhana. “Anak-anak jadi kurang semangat belajarnya,” ujar Marwan. Namun Marwan tidak pernah putus asa, ia selalu berpesan kepada murid-muridnya, bahwa di manapun tempat belajarnya, yang terpenting adalah ada ilmu yang bisa dipetik dan dimanfaatkan.

Marwan menyadari, bahwa ia tidak bisa sepenuhnya menggantungkan banyak keinginan pada pemerintah semata. Karena itulah diperlukan inisiatif masyarakat secara mandiri sekaligus perilaku sosial dari banyak pihak swasta untuk membantu membuat negeri ini lebih baik.

Mengubah Pola Pikir

Awalnya Marwan dikenal sebagai guru mengaji di Desa Aikperapa, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, yang berada di kaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Sebelum tahun 2004, hanya ada satu sekolah di Aikperapa, yaitu Sekolah Dasar (SD). Kondisi ini membuat para orang tua di sana enggan untuk menyekolahkan anak-anaknya, karena mereka lebih suka jika anak-anak mereka membantu bekerja di ladang.

Kondisi ini membuat Marwan justru semakin semangat untuk memotivasi para murid mengajinya. Marwan pun lalu membangun Sekolah Menengah Pertama (SMP) di rumahnya. Inilah SMP pertama yang berdiri di Aikperapa. Ia mendatangkan guru untuk mengajar murid-muridnya. Walaupun awalnya niat Marwan dianggap aneh oleh masyarakat sekitar, namun ia tidak gentar.

Saat ini sekolah yang didirikannya terdiri dari SD, SMP dan Madrasah Aliyah (MA). Ketiga sekolah tersebut berada di bawah kementerian yang berbeda. SD dan MA berada di bawah Kementerian Agama, sementara SMP di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sekolah yang didirikan Marwan berada di atas tanah seluas 6.000 m2, yang merupakan tanah warisan orang tuanya. Kegigihan Marwan untuk membangun sekolah ini dilatarbelakangi oleh keinginan agar di kampungnya bisa memiliki sarjana, karena di Aikperapa belum ada satu pun warganya yang tamat perguruan tinggi.

Butuh waktu cukup panjang bagi Marwan untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Dikatakan Marwan, bahwa anak-anak yang mengenyam pendidikan hingga jenjang SMA, biasanya akan menunjukkan manfaat lebih besar terhadap lingkungannya. Bagi yang berprestasi, Marwan memberikan kesempatan untuk menjadi tenaga pengajar bagi adik-adik kelasnya yang berada di tingkat SD. Artinya, perlahan anak-anak muda di Aikperapa mulai mengalami peningkatan kualitas hidup. Tidak hanya itu, para lulusan SMA ini juga bisa bekerja di kantor kelurahan atau kecamatan.

Di luar semua keberhasilan programnya, Marwan masih menyimpan harapan bahwa lembaga yang dikelolanya ini bisa membuka pendidikan tentang keterampilan. “Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, mimpi itu bisa terlaksana,” ucapnya.

SATU Indonesia Awards 2014

Program SATU Indonesia Awards yang telah memasuki tahun kelima ini akan kembali dianugerahkan dalam rangka Hari Sumpah Pemuda yang akan datang. PT Astra International Tbk akan memberikan bantuan dana kegiatan masing-masing senilai Rp 55 juta dan pembinaan kegiatan bagi para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2014. Pendaftaran untuk SATU Indonesia Awards 2014 dibuka mulai 5 Maret sampai dengan 5 Agustus 2014.

Persyaratan peserta SATU Indonesia Awards 2014:

  • Berusia maksimal 35 tahun, – Individu, – Kegiatan harus orisinal,
  • Penggiat/kegiatannya telah berlangsung minimal 2 tahun (khusus kategori Teknologi minimal 1 tahun),
  • Belum pernah menerima penghargaan nasional/internasional, – Belum terliput media nasional,
  • Bukan karyawan Grup Astra dan Tempo Media Grup.

Juri SATU Indonesia Awards 2014 adalah Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D (Kepala BKKBN Republik Indonesia), Prof. Dr. Emil Salim (Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Indonesia), Ir. Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), Prof. Dr. Nila Moeloek, SpM(K) (Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs) dan Dr. Onno W. Purbo (Pakar Teknologi Informasi).

Tentu saja bukan hanya calon peserta yang bisa mendaftarkan diri, tapi masyarakat yang mengetahui keberadaan dari para pemuda yang memiliki kriteria di atas juga bisa merekomendasikan dan mendaftarkan lebih dari satu orang peserta.

Informasi selengkapnya dan pendaftaran dapat dilakukan di www.satu-indonesia.com. Berbagai program lain yang bisa diikuti adalah Sebar SATU Indonesia dan voting pemenang favorit. Sementara itu, perkembangan SATU Indonesia bisa dilihat melalui Facebook Fan Page: Semangat Astra Terpadu dan Twitter: @SATU_Indonesia.

Tim juri akan melakukan penilaian tentang kegiatan yang dapat membantu dan mengupayakan orang lain untuk bisa menjadi mandiri, dengan memberikan solusi, cara atau alat, bukan sekadar memberikan sumbangan atau donasi yang berdampak sementara.

SATU Indonesia Awards bukan hanya sebagai apresiasi, namun juga sebagai pembangkit semangat generasi muda untuk melangkah maju bersama Indonesia. Tahun lalu jumlah pandaftar naik 48% menjadi 1.606 orang dari tahun 2012 yang sebanyak 1.088 orang. Tahun 2011 pendaftar hanya berjumlah 492 orang, dan di tahun pertama pelaksanannya yaitu tahun 2010 hanya berjumlah 120 orang pendaftar.

SATU Indonesia merupakan langkah nyata dari Grup Astra untuk berperan aktif serta memberikan kontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Pada prinsipnya di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yaitu “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.”

 ​​​​​​​

Auto2000

Share this article
Tanya Tasia