Pembawa Perubahan Pendidikan di Manokwari: Risna Hasanudin"/>

LOKASIMU

Memilih lokasi Anda membantu kami memberikan harga yang akurat, ketersediaan stok, dan menemukan cabang terdekat untuk Anda.

Pembawa Perubahan Pendidikan di Manokwari: Risna Hasanudin

"

MANOKWARI: Perayaan Tahun Baru 2020 dan Natal 2019 baru saja berlalu, tetapi suasana itu masih terasa kental di Manokwari, Papua Barat. Seorang Risna Hasanudin (31 tahun), perempuan muslim yang tinggal di Manokwari pun, ikut serta dalam merasakan kegembiraan tersebut. 

Dia dapat merasakan toleransi yang tinggi sebagai bagian dari masyarakat minoritas. Tidak hanya diikutsertakan dalam merayakan, masyarakat sekitarnya rela untuk mengganti bahan baku santapan karena keberadaannya. 

Suasana belajar bersama anak-anak PAUD di Desa Kobrey.

 

Situasi saat ini bertolak belakang dengan suasana beberapa waktu lalu, ketika terjadi kerusuhan antarmasyarakat di Manokwari. Pada saat itu, sistem belajar mengajar sempat terhenti karena keadaan yang tidak kondusif. 

Risna tidak berdiam diri menghadapi keadaan itu. Dia mencari jalan tengah dengan merencanakan diskusi terbuka di Manokwari Selatan bersama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) untuk meredam situasi agar menjadi lebih kondusif. Tujuannya untuk menghimpun pelajar dari jenjang SMA sampai universitas untuk mencari penyebab dari akar permasalahan kerusuhan. 

Singkat cerita, rasisme dan pelanggaran HAM disepakati menjadi penyebab utama kerusuhan yang terjadi. Harapannya dengan diskusi intensif seperti itu, gejolak dapat diredam, diskusi berjalan dengan baik, sehingga para pelajar tidak banyak terpengaruh dan tidak mudah terprovokasi.

Mengapa Tertarik Papua

Diawali sejak Risna kuliah pada tahun 2006 di Ambon, Ia sudah tertarik dengan Papua dan melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di sana. Dengan segala persoalan yang ditemukan, Risna terpacu untuk membantu dengan segala yang dia miliki. 

Ibu-ibu di Desa Kobrey antusias membuat noken, tas tradisional Papua yang terbuat dari serat kulit kayu.

 

Segera setelah menyelesaikan kuliah, Risna memulai perjuangannya. Ia menempati salah satu rumah masyarakat yang berada di Desa Kobrey selama dua tahun. Halangan dan rintangan mulai berdatangan dari segala kalangan. Ia sempat tidak diterima oleh masyarakat dan dianggap mempermalukan. 

Risna juga merasakan kurangnya respon dari pemerintah daerah. Pada saat itu, pendidikan belum di nomor satukan. Ia menyadari, masih minimnya mindset mengenai pentingnya pendidikan. 

Risna tidak menyerah. Ia memulai langkahnya dengan mengajar para perempuan dan membuka Rumah Cerdas Perempuan Arfak. Ia juga membantu memasarkan produk karya perempuan Papua yaitu noken, tas tradisional Papua yang terbuat dari serat kulit kayu.

Saat ini, perjuangan Risna sudah memasuki tahun keenam. Ia tidak berhenti pada pendidikan baca tulis untuk perempuan Arfak dan berhasil mengajak pemerintah setempat untuk menambah fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di beberapa lokasi di Manokwari yang secara bersamaan juga membuka lowongan bagi para relawan yang bersedia untuk mengajar. Risna juga membuka perpustakaan untuk sekolah dan perpustakaan keliling tanpa dipungut biaya agar dapat meningkatkan minat membaca.

“Alhamdulillah, biaya operasional serta biaya untuk para relawan dibantu seluruhnya oleh pemerintah daerah,” ujar Risna. Hal ini membuat Risna bahagia atas dukungan positif pemerintah, sehingga programnya dapat berjalan. Selain itu, Risna juga diberikan fasilitas berupa rumah untuk tempat tinggal.

Bersama warga asli Desa Kobrey.

 

Selain di bidang pendidikan, Risna juga menjalankan beberapa program yang difokuskan untuk memperbaiki gizi anak sebagai salah satu masalah serius di Papua. Ia membuka posyandu dan membagikan asupan gizi tambahan berupa susu dan kacang hijau.

Jerih payah Risna selama beberapa tahun terakhir membuahkan hasil. Perkembangan pendidikan di Papua terlihat walaupun secara bertahap. Salah satunya, tingkat pendidikan anak di Kobrey yang maju pada tahun 2018. “Jumlah anak sekolah di Kobrey menjadi semakin banyak pada tahun 2018. Biasanya hanya satu-dua anak yang meneruskan sekolah. Pada tahun 2018 ada 15 anak SMP, 17 anak SMA, bahkan ada 5 anak yang melanjutkan kuliah. Alhamdulillah kini antusiasmenya luar biasa untuk sekolah,” ungkap Risna. 

Kerja kerasnyapun telah diapresiasi Astra melalui SATU Indonesia Awards pada tahun 2015 pada bidang pendidikan serta meraih hadiah Rp 60 juta. Harapan Risna “sederhana?, yaitu ingin membawa perubahan yang lebih besar bagi masyarakat Papua. 

Semangat Risna memajukan masyarakat Papua sejalan dengan cita-cita Astra yaitu sejahtera bersama bangsa.

 

Auto2000

"
Share this article
Tanya Tasia