Kisah Sepasang Bola Mata Anak di Pulau Terdepan - AUTO2000
Email
Password
lupa password? klik disini
RESET PASSWORD
belum punya akun?

“Awalnya aku bercita-cita menjadi Polwan, tetapi karena mataku minus dua, terpaksa kualihkan cita-citaku menjadi guru yang tidak mempermasalahkan kondisi mata minus,” ungkap Maya Klaritagarpenassy, siswi kelas 5 SD di Merauke, Papua, seusai pemeriksaan mata di sekolahnya.

“Aku sempat menyesali kondisi mataku, namun aku bersyukur akan kedua mataku yang masih melihat dengan baik berkat bantuan kacamata dan aku akan merawat sebaik-baiknya,” ujarnya dengan penuh harap.

image008

Ini adalah Maya Klaritagarpenassy, salah satu siswi berprestasi yang duduk di kelas 5 SD YPPK Don Boscho Budhi Mulia Merauke, yang setelah diperiksa ternyata memiliki mata minus dua. Maya awalnya bercita-cita menjadi seorang Polwan, namun kondisi matanya sudah minus, Maya lalu ingin menjadi guru karena senang berada dekat anak-anak.

Kejadian ini memang agak tragis. Karena permasalahan mata, seorang anak harus mengganti cita-cita yang diimpikannya. Tetapi, syukurlah si anak sangat mengerti dengan kondisinya dan tetap bersemangat untuk menggapai cita-cita, meski pemeriksaan mata Maya tersebut baru dilakukan setelah ia berusia 11 tahun. Demikian pernyataan jujur Maya, siswi yang berada di pulau terdepan Indonesia.

Bukan Masalah Sepele

Ternyata masalah mata anak bukanlah persoalan biasa dan dapat dianggap sepele. Setidaknya hal itu terbukti dari perjalanan dalam program GenerAKSI Sehat Indonesia yang mencakup 9 kota, yakni Atambua, Nunukan, Sabang, Entikong, Merauke, Rote, Natuna, dan Talaud, di samping Jakarta.

Kepala Divisi Kesehatan Rumah Sakit dan Sosial PMI Pusat dr. Mochamad Arfan yang telah mengikuti hampir seluruh pembagian kacatama melalui GenerAKSI Sehat Indonesia mengatakan: “Di tiap-tiap kota, rata-rata sekitar 15% dari 300 anak-anak yang diperiksa mengalami kelainan refraksi yang cukup serius.”

Ia mencontohkan bahwa data pemeriksaan mata anak di Merauke yang mengalami minus besar mencapai 25%, sedangkan di Jakarta dalam hal ini Jakarta Utara bahkan mencapai 30%.

Permasalahan mata anak muncul tidak hanya disebabkan oleh gangguan minus akibat tidak adanya sarana dan prasarana untuk memeriksa kesehatan mata mereka, namun persoalan lain juga terjadi akibat kurangnya asupan gizi, terutama sayur mayur, khususnya yang mengandung vitamin A.

Seperti halnya yang terjadi di Natuna. Bahkan di sana ditemukan fenomena anisometropia, yakni gangguan mata yang mengindikasi perbedaan jauh antara minus mata kiri dan kanan. Misalnya, jika mata kiri minus 1, mata kanannya minus 4-5. Kejadian ini sangat jarang terjadi di daerah lain di Indonesia.

image016

Melalui penyerahan kacamata dari hasil program GSI 2016, 2.000 anak usia sekolah di Kabupaten Kepulauan Talaud akan dapat melihat lebih baik. Seorang anak sedang diperiksa matanya oleh petugas refraksi didampingi Kepala Divisi Kesehatan Rumah Sakit dan Sosial PMI Pusat dr. Arfan (belakang).

Bahkan, dalam hal cerita lain, khususnya mengenai keterlibatan orang tua, ada kasus yang sangat tragis di mana seorang anak bernama Rukun, yang selalu dituntun sang Ibu untuk pergi dan pulang sekolah. Ternyata matanya minus 16 setelah dilakukan pemeriksaan mata yang selama ini tidak pernah dilakukan orang tuanya. Kenyataan ini baru diketahui setelah ia berusia 16. Jadi, di sini masalahnya adalah keterlambatan dalam hal memeriksa kesehatan mata kepada ahlinya. Sementara orang tuanya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut sejak Rukun kecil.

 

Ketiadaan Dokter Mata

Memang, banyak kasus mata anak-anak di berbagai daerah terdepan di Indonesia terjadi akibat situasi di daerah itu sendiri, termasuk ketiadaan dokter ahli mata di suatu daerah sehingga mereka tidak dapat memeriksakan kondisi mata sedini mungkin.

Merujuk data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan bahwa 6,6 juta anak Indonesia usia sekolah mengalami gangguan pada mata. Angka tersebut relatif cukup besar bila dibandingkan jumlah anak usia sekolah yang mencapai 66 juta.

Berdasarkan masalah tersebut, PT Astra International Tbk menggagas gerakan GeneAKSI Sehat Indonesia (GSI). GSI merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian Astra di bidang kesehatan untuk membantu anak-anak sekolah di daerah perbatasan terluar Indonesia memiliki penglihatan yang lebih baik. Bekerjasama dengan PMI, program ini telah dilaksanakan sejak Oktober 2014 hingga Januari 2017.

 

Beragam kisah mengharukan berasal dari daerah terluar lainnya. Cerita lain dialami anak-anak di Natuna, Kepualaun Riau. Salah satunya Nurmalinawati. Dua tahun silam matanya minus 6. Namun, pemeriksaan mata yang tidak rutin dan tidak dibantu dengan kacamata membuatnya sekarang bermata minus 13. Kejadian ini terekam sewaktu pemeriksaan mata pada 11 Januari 2017 lalu.

 

Saudara Kembar

Selain itu, diketahui pula di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Aryanto Messah dan saudara kembarnya mengalami kerusakan mata yang cukup serius. Keduanya yang duduk di kelas 2 SMP pun mengalami kerusakan mata yang sama pula. Kali ini, kerusakan mata anak-anak ini sudah sulit disembuhkan. Kacamata hanya dapat membantu mereka melihat sedikit lebih jelas. Perlu adanya penanganan khusus bagi keduanya.

image010

Wardah, salah satu siswi berprestasi SDN 01 Sabang, memeriksakan penglihatannya bersama tim Palang Merah Indonesia. Penglihatannya yang kurang jelas membuatnya perlu mengenakan kacamata untuk membantunya melihat lebih jelas. Namun dengan kondisinya ini, ia tetap rajin belajar dan pernah berhasil meraih peringkat 1 dalam Olimpiade Ilmu Pengetahuan Alam di Kabupaten Sabang, Aceh.

Ketika dikonfirmasi (28 November 2016), Bupati Rote Ndao Leonard Haning menjelaskan: “Sampai saat ini, kami belum memiliki ahli mata dan optik, dan kami bersyukur pada acara kali ini hadir Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Ini pertama kali, Menteri Kesehatan hadir di Rote Ndao setelah 71 tahun Indonesia merdeka.”

Tak hanya itu, seorang siswi kelas 4 SDN 08 Nekan di Entikong, Kalimantan Barat, diketahui pula mengalami gangguan refraksi pada matanya. Ia baru tahu kalau matanya minus dua usai pemeriksaan pada 11 Januari 2016. Namun, cita-cita siswi bernama April tersebut tidak surut. Kelak, ia ingin berkuliah di jurusan kedokteran di Pontianak.

Pada 16 Desember 2015, Astra dan PMI berkunjung ke SDN 01 Sabang, Aceh. Ada siswi bernama Wardah mengalami gangguan mata yang juga mengganggu proses belajarnya. Meskipun penglihatannya kurang jelas, siswi berusia 11 tahun itu tak patah semangat untuk belajar. Ia sering menjadi bintang kelas, bahkan pernah meraih peringkat 1 Olimpiade IPA tingkat Kabupaten Sabang.

Kini, semua anak-anak tersebut telah mendapat bantuan kacamata berkat bantuan masyarakat Indonesia melalui GenerAKSI Sehat Indonesia yang digagas Astra. Bersama Kementerian Kesehatan dan Palang Merah Indonesia (PMI), Astra berharap anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dapat melihat lebih jelas untuk menggapai cita.

 

2.000 Kacamata Sampai di Talaud

Program terakhir GSI 2016-2017 dilakukan pada 21 Januari 2017 di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Sebanyak 2.000 kacamata kembali diserahkan Astra bagi anak-anak di kawasan paling utara Indonesia Timur, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

image014

Siswa SDN 1 Beo, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, mendapatkan pemeriksaan mata gratis oleh Palang Merah Indonesia (PMI) dan disaksikan Bupati Talaud Sri Wahyuni Maria Manalip (berdiri ketiga kiri), Ketua PMI Sulawesi Utara Annie Dondokambey (berdiri kedua kiri), Kepala Divisi Kesehatan Rumah Sakit dan Sosial PMI Pusat dr. Arfan, serta perwakilan Astra, Head of Environment & Social Responsibility Division Riza Deliansyah (berdiri kanan) dan Head of Public Relations Division Yulian Warman.

Penyerahan kacamata dilakukan secara simbolis oleh Bupati Talaud Sri Wahyuni Maria Manalip, Perwakilan Ketua PMI Sulawesi Utara Annie Dondokambey, Ketua DPRD Talaud George Rompah, Head of Environment & Social Responsibility PT Astra International Tbk, dan Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman kepada empat perwakilan siswa SDN 1 Beo, Kepulauan Talaud.

Bupati Talaud Sri Wahyuni Maria Manalip mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Astra dalam membantu anak-anak Talaud: “Tidak adanya pemeriksaan mata gratis seperti yang dilakukan Astra ini menjadi salah satu penyebab kerusakan mata anak.”

Di samping itu, ia juga menyampaikan beberapa kebiasaan anak-anak yang merusak mata, seperti seringnya bermaingadget, terlalu lama menonton televisi, dan membaca buku sambil tiduran.  “Saya berterima kasih atas kedatangan Astra di Talaud sebagai pulau terluar di wilayah timur. Dengan ini seharusnya kerusakan mata anak-anak Talaud bisa berkurang.”

 

Total 15.654 Kacamata

Program GenerAKSI Sehat Indonesia mengajak masyarakat untuk melakukan social movement melalui berbagai AKSI SEHAT seperti olahraga, makan buah dan sayur, deteksi dini pemeriksaan kesehatan, dan aksi sehat lain yang dilakukan bersama teman dan keluarga. Setiap AKSI SEHAT yang mereka kampanyekan melalui media sosial akan dikonversikan oleh Astra menjadi kacamata yang didonasikan untuk anak-anak di wilayah perbatasan dan terluar Indonesia.

Pada tahun 2014-2015, sebanyak 9.048 kacamata telah didonasikan ke lima wilayah perbatasan dan terluar Indonesia, yaitu: Sabang – Aceh; Entikong – Kalimantan Barat; Nunukan – Kalimantan Utara; Atambua – Nusa Tenggara Timur, dan Merauke – Papua.

Program GSI 2016-2017 berhasil memperoleh total unggahan melalui media sosial sebanyak 6.606 dan telah dikonversi menjadi kacamata untuk anak-anak di Rote Ndao – Nusa Tenggara Timur, Natuna – Kepulauan Riau, dan Talaud – Sulawesi Utara.

Setelah penyerahan kacamata di Talaud ini, secara keseluruhan jumlah kacamata yang diberikan Astra bagi anak-anak Indonesia hingga saat ini sebanyak 15.654 kacamata.

image012

Astra kembali membagikan 2.000 kacamata bagi anak-anak di pulau terdepan Indonesia. Kali ini penyerahan kacamata dilakukan bagi anak-anak di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Secara simbolis, Head of Environment & Social Responsibility PT Astra International Tbk memberikan sebuah kacamata kepada perwakilan siswi SDN 1 Beo, didampingi oleh Bupati Talaud Sri Wahyuni Maria Manalip (kanan), Ketua DPRD Talaud George Rompah (tengah), Perwakilan Ketua PMI Sulawesi Utara Annie Dondokambey (kedua kiri), dan Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman.

Sumbangsih Astra di bidang kesehatan yang terangkum dalam program Astra untuk Indonesia Sehat telah memberikan pengobatan gratis kepada 120.087 pasien, pembinaan 1.537 posyandu, menyumbangkan 198.013 kantong darah, dan membina 43 Kampung Berseri Astra.

Pada prinsipnya, di mana pun instalasi Astra berada harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma Astra, yaitu “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara”.

Newsletter
Dapatkan update terbaru mengenai informasi produk dan promosi langsung di email anda.
Name
Email

BERITA TERKAIT

Booking Workshop / THS
Maaf, tidak ada waktu yang tersedia untuk pemesanan pada hari libur.
Silahkan pilih tanggal lainnya.